Perubahan perilaku penonton di Stadion Segiri Samarinda dalam beberapa pertandingan terakhir Pusamania Borneo FC (PBFC) terjadi. Hal tersebut disampaikan Ketua Panpel PBFC, Herry Hasan.


Dikatakannya, penerapan tiket barcode yang harus dipindai menjadi faktornya. Dalam beberapa kali pertandingan kandang yang sudah dijalani setelah pertama kali dikenalkan pada laga Persegres Gresik (16 Juni 2016), sejumlah persoalan yang menjadi catatan bisa diminimalisir.


"Saat pertandingan, saya terjun langsung memantau situasi. Di luar say a melihat penonton lebih memilih membeli tiket di loket, karena mereka khawatir jika beli di calo tiketnya bodong," terang Herry.


Dikatakannya, penonton di beberapa pertandingan lebih rapi saat masuk ke tribun. Memang pertama-tama perlu adaptasi, tapi setelah beberapa pertandingan, sistem ini berjalan efektif dan imbasnya sangat terasa.


"Jumlah penonton juga bisa diukur jelas. Berapa orang di dalam stadion berbanding lurus dengan penjualan tiket. Sistem sudah berjalan bagus dan segala kekurangan kami respons dan langsung berbenah agar penonton bisa nyaman menyaksikan pertandingan," katanya lagi.


Herry mengatakan, pihaknya juga berkoordinasi dengan semua pihak. Kritik dan saran yang disampaikan ke panitia, kami jadikan masukan untuk dibenahi ke depannya.


"Panpel PBFC berkeinginan tinggi memberika kepuasa kepada semua penonton yang hadir," ujar Herry. Saat disinggung mengenai harga tiket pertandingan lawan Barito Putera, Herry mengatakan tak ada perubahan. Harga ekonomi Rp 35 ribu dan tribun VIP djual dengan harga Rp 75 ribu. (SP/ANS/DAR/RZA*)