Pusamania Borneo FC (PBFC) menjadi tim yang paling sering melakukan kritik keras terhadap kualitas perangkat pengadil di Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016.


Klub berlabel juara Divisi Utama Liga Indonesia 2014 dan Piala Gubernur Kaltim 2016 ini, mengaku phobia terhadap buruknya kualitas wasit.


Hampir tiap pekan para perangkat pengadil dianggap terus merugikan skuad Pesut Etam. Dan terakhir, laga melawan Sriwijaya FC (SFC) di Stadion Segiri Samarinda, Sabtu (27/8), kejadian yang dimaksud kembali terjadi. (AHS/DAR/RZA/*)

Dragan Djukanovic (Pelatih PBFC): "Saya berterimakasih dengan para pemain, selama empat bulan ini, mereka sangat berjuang sangat keras, karena setiap pekannya kami selalu melawan 14 orang dan setiap pekan juga kami melawan wasit, seharusnya mereka malu karena terus merampok poin kami, dan seharunsya mereka di penjara karena selalu merampok," "Kenapa dia takut? apa karena dia memimpin 'bagus'? Apa karena dia memberikan lima kartu dan satu kartu merah. Kenapa dia merasa tertekan? Kenapa? Ini juga wasit yang sama waktu PBFC bertanding di Madura. Ini wasit mafia, federasi harus segera mereformasi wasit jika tidak ingin seperti ini terus," "Saat pemain kami di kartu kuning atau kartu merah ada denda disana dan saya juga waktu lawan Persija juga kena denda. Lalu, dimana federasi saat wasit melakukan kesalahan?" "Soal pelanggaran Diego? saya harus fair, ini kartu. Ya itu harus kartu merah. Saya tanya wasit, kenapa ini tidak kartu? kenapa kamu tidak berlaku adil? ini bukti karena mereka sangat tidak berkualitas. Selama 17 tahun saya di sepak bola, ini adalah moment terburuk wasit yang saya temui," Ponaryo Astaman (Kapten PBFC): "Pertama-tama selamat kepada tim dan teman-teman, mereka tampil luar biasa dengan sepuluh orang dan mampu mengejar ketertinggalan, soal wasit, saya pikir ini menyedihkan, pertandingan ketat antara kedua tim dengan kualitas yang bagus, berjalan dengan tensi tinggi, pelanggaran keras itu wajar, tapi ini melihatkan kualitas wasit kita, kalau bilang under pressure mereka, mereka ya harus siap. Karena sepak bola kita akan terus berkembang, mereka harus terbiasa dengan situasi seperti ini, jangan lagi alasan-alasan under pressure under pressure. Karena kalau kita lihat tadi di babak pertama tadi, banyak yang bilang wasit banyak memberikan kartu kepada PBFC. Sedangkan di babak kedua, begitu diganti wasit, banyak yang bilang wasit banyak menguntungkan PBFC. Kenapa harus seperti ini? di babak pertama angin kekanan, babak kedua angin kekiri. Apakah memang mereka bekerja seperti ini, atau? "Tolonglah kami membutuhkan pemimpin di lapangan yang fair, supaya pertandingan ini berjalan dengan fair, supaya tim dengan kualitas yang terbaik menang. Pertandingan juga akan menarik kalau dipimpin oleh wasit yang benar. Kami tidak minta diuntungkan atau mengambil keuntungan dari wasit, belajarlah untuk bertindak fair, karena tanpa itu semua percuma kita main, percuma kita berlatih percuma kita bertanding dengan sungguh-sungguh, dan hasilnya dirusak seperti ini,"