Laga kandang Pusamania Borneo FC (PBFC) kontra Madura United lalu menyisakan kisah menarik diatas tribun. Tiga Pusamanita yang diwawancari liputan6.com menjadi pembedanya.


Ya, wanita berhijab ini hadir ke Stadion Segiri, Samarinda, bukan sebagai istri atau kekasih pemain sepak bola, yang biasa disebut WAG's. Lebih dari itu, Andhara Sari Kirana, selalu tampil di tiap pertandingan kandang Pusamania Borneo FC (PBFC), sebagai dirijen di tribun suporter.


Sosoknya telah dikenal sebagai salah satu dirijen atau pemimpin koreografi lebih dari lima tahun lalu. Tepatnya ketika tim Kalimantan Timur Persisam Putra Samarinda menapaki tahun ketiganya berlaga di Indonesia Super League (ISL).


Meski Persisam memindahkan homebase-nya ke Bali, Pusamania (julukan fans) tetap hidup. Kali ini PBFC menjadi harapan baru bagi masyarakat tepian Sungai Mahakam tersebut untuk mengangkat kejayaan sepak bola mereka. "Sudah lama saya jadi dirijen. Sejak Persisam masuk ISL, hingga sekarang kami bangga dengan PBFC," tutur Andara kepada Liputan6.com, di jeda pertandingan antara PBFC versus Madura United, Jumat (30/9/2016) sore.


Melompat, berteriak, memberi instruksi dengan pengeras suara adalah hal biasa untuk perempuan 24 tahun ini. Ternyata bukan hanya Andhara yang menjadi pemanis tribun timur Segiri, karena beberapa rekannya melakukan hal serupa, seperi Vera, Rina dan Mita.


Pada pekan ke-21 Torabika Soccer Championship (TSC) lalu, Andhara bersama rekan-rekannya mengomandoi seluruh Pusamania agar menciptakan koreografi indah di awal babak kedua. Hasilnya, sebuah tulisan PBFC berwarna emas terlihat menyala-nyala dari kejauhan.


"Awalnya saya sebagai penonton biasa aja. Lalu ditawari karena belum ada perempuan yang jadi dirijen," ucap Andhara, yang mengidolakan Jefry Kurniawan. "Kalau di luar sepak bola, saya pekerja kantoran biasa," kata Andhara. (RSA/AHS/*)