Pusamania Borneo FC harus mengakui keunggulan Persib Bandung dengan skor 1-0 setelah gol semata wayang Sergio Van Dijk tidak bisa dibalas pada laga lanjutan Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016.


Pelatih PBFC, Dragan Djukanovic mengatakan, pertandingan ini berjalan seru dan saling serang karena kedua tim mempunyai banyak peluang. Meski menurutnya laju bola juga tidak sempurna lantaran genangan air di lapangan banyak terlihat usai hujan lebat yang melanda Bandung.


"Saya rasa pertandingan berjalan ketat, layaknya derby, itu normal jika tensi sedikit meningkat. Menurut saya ini laga yang menarik, laga yang keras tapi tadi ada hujan sebelum laga yang mengganggu cara passing kami dan itu menjadi faktor yang membuat kami tak bermain seperti biasanya," ujar Dragan dalam jumpa pers usai laga di Si Jalak Harupat, Rabu (14/12).


Selain itu Pria asal Montenegro tersebut mengatakan absennya dua pemain kuncinya di laga tadi menjadi penyebab permainan tim tidak seperti biasanya. Ponaryo Astaman yang biasa menjadi penyeimbang di pusat permainan membuat Flavio Beck bekerja sendirian. Selain itu Terens Puhir juga mengalami cedera sehingga daya sengat dari sisi kanan berkurang.


"Kami juga mempunyai masalah besar dengan tim karena Ponaryo dan Terens tidak bisa bermain hari ini karena cedera. Tim ini tidak pernah sama saat Ponaryo dan Terens tidak ada dalam tim," ujarnya.


Dragan juga mengeluhkan kepemimpinan wasit pada sore hari tadi. Menurutnya, gol dari Persib tidak perlu terjadi andai Agus Fauzan Arifin tidak memberikan hadiah sepak pojok bagi Indonesia. Karena dalam situasi duel, Dragan menilai bola menyentuh Febri Hariyadi sebelum bergerak keluar. Hasilnya Sergio Van Dijk pun mencetak gol buah dari tendangan penjuru tersebut.


"Dalam opini saya, masalah terbesar di sepakbola Indonesia adalah wasit. Itu menurut pendapat saya. Dalam laga ini wasit membuat banyak kesalahan, saya bisa katakan kami kalah karena kesalahan wasit. Mungkin gol Persib seharusnya tidak terjadi karena seharusnya kejadian itu tidak corner. Febri menjadi orang terakhir yang menyentuh bola sebelum out," ujarnya.


Meski demikian, seperti dilansir Simamaung, kedua tim yang tidak mau menelan kekalahan ini, tidak jarang kerap terlibat dalam insiden. Karena duel-duel yang terjadi di lapangan tidak bisa terhindarkan sebab setiap pemain ingin tampil fight. Bahkan Dragan Djukanovic mengatakan laga tadi layaknya sebuah derby karena kedua tim sama-sama mempertaruhkan gengsi mereka.


"Saya bisa katakan pertandingan ini seperti derby dan sangat bagus untuk fans, pertandingan tadi sangat dinamis, agresif, banyak duel, banyak kombinasi peluang mencetak gol dari kedua pihak. Namun Persib lebih beruntung karena bisa mencetak gol," beber pelatih asal Montenegro itu.


Disampaikan pelatih berlisensi UEFA Pro ini, kedua tim dipandang olehnya sebagai tim yang terbaik di ISC A 2016 jika ditinjau dari cara bermainnya. karena masing-masing kesebelasan gemar memainkan karakter yang menyerang dengan menguasai ball possesion. Bentrok kedua tim yang memiliki filosofi nyaris serupa itu pun disebut oleh Dragan menyebabkan laga sangat enak untuk disaksikan.


"Dan bisa saya katakan, pertandingan ini, menurut pendapat saya, adalah dua tim yang terbaik di Indonesia. Buat saya, ini dua tim terbaik jika melihat cara bermain, kedua tim memainkan sepakbola modern dan saya tidak mau ini menjadi salah paham," ujarnya. (AHS)