Karir penjaga gawang Pusamania Borneo FC (PBFC), Muhammad Ridho Djulie terus meningkat. Sejak kerap dipercaya mengawal mistar gawang PBFC pada gelaran ISC A 2016 silam, pemain asal Pekalongan ini terus menunjukkan penampilan cemerlang.


Namun, ditengah rentetan kesuksesan tersebut, cibiran juga ia dapatkan. Maklum posisi penjaga gawang memang menjadi salah satu posisi paling penting di sepak bola.


"Iya orang-orang kebanyakkan tidak lihat seberapa banyak kita melakukan penyelamatan, namun jika kita melakukan kesalahan sekali saja yang fatal, ini biasanya yang paling diingat, inilah tantanganya," kata Ridho.


Menanggapi hal itu, Ridho punya cara jitu dengan berusaha menikmati semuanya. Ia mengaku berusaha untuk tak terlena dengan kesuksesan namun juga belajar dari kesalahan. "Hidup itu seperti mengendarai sepeda, untuk tetap seimbang, kamu harus terus bergerak. Jika selama ini ditertawakan, maka bersyukurlah. Jika selama ini diremehkan, maka berbahagialah," ujarnya.


"Ada hadits riwayat Tirmidzi yang bilang hinaan memang terkadang membuat hati kita terbebani. Sering pula hinaan itu membuat hati kita menangis. Pedih dan perih, bagai menggenggam bara api. Tapi akan datang kepada manusia suatu masa, orang yang sabar pada masa itu bagaikan orang yang sedang menggenggam bara api, jadi kalau saya sedih, saya akan berserah diri," pungkas Ridho. (AHS)