Lolosnya PBFC II ke babak 8 besar Piala Presiden 2017, sempat mengagetkan banyak pihak. Pasalnya klub yang bermarkas di Stadion Segiri Samarinda ini lolos sebagai juara grup hanya dengan catatan yang minim.


Ya, minim menang dan gol. Pesut Etam mencatat masing-masing satu kali menang dan mencetak gol, itupun di laga terakhir penyisihan grup. Sebelumnya Asri Akbar, dkk hanya mampu bermain imbang tanpa gol dari Barito Putra dan tuan rumah Bali United.


Pencapaian ini sungguh berbeda drastis dari PBFC besutan Dragan Djukanovic pada kompetisi ISC A 2016 lalu. Saat itu PBFC mampu menyabet status tim terproduktif bersama Sriwijaya FC dengan torehan total 62 gol.


Berbagai media menyebut permainan PBFC II racikan Ricky Nelson dianggap memainkan gaya pragmatis. PBFC II terkesan tak ngotot dalam menyerang. Menanggapi hal itu, pelatih yang juga menjabat sebagai Direktur Tim Usia Dini PBFC itu membela permainan timnya.


Menurutnya sepakbola bukanlah soal statistik, melainkan permainan di atas lapangan. "Sepakbola tidak hanya bicara soal statistik. Karena statistik hanya memberikan data, tanpa memberikan arti yang paling penting dari permainan sepakbola itu sendiri," ujar pelatih yang jago dalam menganalis kekuatan lawan itu.


Pencapaian PBFC II menjadi catatan yang paling minim, apabila dikomparasikan dengan klub-klub yang berstatus juara grup di Piala Presiden. Sebut saja juara grup E, Semen Padang. Pasukan Kabau Sirah menjadi klub ang paling dominan dengan total 12 gol dari 22 kali tembakan ke arah gawang.


Catatan itu berbanding jauh dati PBFC II yang paling sedikit melepaskan tembakan ke arah gawang. Total hanya 5 shoot on target yang dilepaskan pasukan Pesut Etam, dan menghasilkan 1 gol. Namun Ricky menilai catatan itu tak terlalu penting dalam sepakbola. Justru permainan menyerang tak selamanya berbanding lurus dengan hasil yang diraih.


"Sepakbola bicara soal situasi menyerang, bertahan, dan transisi. Untuk mampu bermain dalam 3 situasi ini kita butuh tactical team (komunikasi), teknik, dan fisik. Tanpa hal ini kemenangan tidak mudah diraih. Karena sepakbola bicara soal 11 vs 11. Bukan individual pemain yang mampu melepaskan 10 tendangan ke gawang lawan tapi timnya kalah," ungkapnya.


Perkataan Ricky itu setidaknya terbukti jika dibandingkan dari beberapa tim besar lainnya. Persipura Jayapura misalnya, berhasil melepaskan 20 tembakan dan menghasilkan dua gol, namun berada di peringkat 3 grup A. Bali United lebih parah lagi, sebagai tuan rumah grup D, justru Serdadu Tridatu tak bisa memanfaatkan keuntungan tersebut.


Mereka berhasil melepaskan 22 tembakan ke arah gawang dan menghasilkan 3 gol, tapi menduduki peringkat juru kunci Grup D. Saat ini PBFC II menggelar Training Camp di Yogyakarta. Pemusatan latihan itu dalam rangka persiapan menghadapi laga delapan besar Piala Presiden, 25 Februari mendatang. (TK)