Maraknya niat klub-klub di Indonesia mendatangkan pemain berlabel bintang yang pernah berlaga di Piala Dunia, setidaknya tiga edisi terakhir, membuat kapten tim PBFC, Ponaryo Astaman angkat suara.


Pemilik salahsatu gol terbaik sepanjang masa di Piala Asia itu menerangkan hal ini sebenarnya tak perlu dilakukan. Apalagi, kualitas pemain yang didatangkan bukan kualitas yang terbaik.


Marquee player sendiri ialah ungkapan untuk seseorang pemain yang memiliki gaji selangit atau di luar gaji normal (salary cap). Disisi lain, ada juga yang mengartikan marquee player sebagai pemain yang kemampuannya berada diatas rata-rata.


"Menurut saya secara pribadi, tidak terlalu perlu. Secara teknis marquee player yang terjangkau oleh klub-klub (Indonesia) sekarang sudah lewat peak performancenya. Dalam arti, tidak dalam level terbaik mereka lagi,” ungkap Popon, sapaan akrabnya.


“Belum lagi dengan adanya marque player otomatis mengurangi jatah pemain lokal juga. Disinilah ironinya, disaat kita ingin memberi porsi lebih untuk pemain lokal terutama pemain muda,” tambahnya.


Dari segi bisnis pun, dimata Popon tanpa marquee player sepak bola Indonesia sudah bergairah sejak lama. "Kalau dari sisi bisnis apa? tanpa marque player pun atmosfer sepakbola kita sudah luar biasa, apa yang kurang?,” urai pria yang juga Presiden APPI (Asosiasi Pemain Profesional Indonesia) itu.


"Belum lagi harga marquee player yang tidak murah, disaat sekarang dimana klub-klub sedang berpikir menyehatkan neraca keuangan mereka, sangat ironis kalau masih ada klub yang telat membayar gaji ditengah adanya aturan tentang marque player,” pungkasnya. (AHS)