Pelatihan transfer matching system (TMS) jelang bergulirnya Liga 1 2017 di Jakarta, Rabu (5/4) kemarin, memunculkan fakta baru bagi Borneo FC. Ya, tim kebanggaan masyarakat Samarinda itu menjadi klub pertama di Indonesia yang melakukan transfer fee atas nama Helder Lobato dalam proses perpindahan pemain asing.


Hal itu diungkapkan TMS Manajer Borneo FC, Reza Katamsi. Rabu (5/4) sore. Diterangkannya, selama ini proses perpindahan pemain asing di Indonesia yang terdata dalam TMS tak pernah menyertakan nominal transfer fee.


“Dan untuk pemain berbasis data internasional baru Borneo FC sepanjang sejarah sepak bola Indonesia yang melakukannya. Saya awalnya ragu, dan saya sampai bertanya dua kali untuk hal ini, dan benar Borneo FC adalah klub pertama di Indonesia yang memakai fee transfer,” ujar Reza.


Saat ini, Borneo FC memiliki tiga pemain asing, diantaranya dua Brazil yakni Helder Lobato dan Flavio Beck Junior serta Kunihiro Yamashita asal Jepang. “Kalau level klub lokal, ada juga yang pernah pakai tranfser fee atas nama Rizky Pellu (PBR ke Mitra Kukar), Sultan Samma dan Sandi Darma Sute (Bali United ke Borneo FC), hanya itu lokal dan tidak terdaftar di TMS,” tambahnya.


TMS sendiri adalah platform wajib yang dirancang khusus untuk asosiasi dan klub sepak bola profesional yang berafiliasi kepada FIFA. Pengenalan sistem ini telah disetujui oleh Kongres FIFA pada tahun 2009 dan pertama kali dimulai pada 1 Oktober 2010.


Tujuan dari sistem ini adalah untuk meningkatkan transparansi, efisiensi dan pemerintahan antara klub dan asosiasi sepak bola. Pembelian dan penjualan pemain antar kedua klub diminta untuk memasukkan rincian transfer secara detail. Rincian harus sesuai agar transfer dapat disetujui.


"Internasional transfer Matching System (ITMS) untuk transfer pemain antara dua federasi sepak bola yang berbeda, dan rencananya musim ini di Indonesia akan menerapkan domestik Matching System (DTMS), DTMS ini untuk transfer pemain antar klub berafiliasi dengan asosiasi yang sama, jika jadi diterapkan, Indonesia akan jadi yang pertama di Asia yang memakai DTMS,” terang pria yang juga akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Mulawarman itu.


Selain itu, setiap asosiasi maupun klub harus memiliki karyawan khusus yang diberikan akses ke ITMS untuk mengelola transfer internasional klub tersebut. Mereka disebut sebagai TMS Manajer.


"Pengguna TMS harus terlatih, dan menandatangani perjanjian kerahasiaan dan menjalani pemeriksaan latar belakang sebelum diberikan akses ke ITMS. Pelanggaran terhadap isi didalam ITMS akan berakibat fatal bagi klub, dan itu pernah terjadi karena ada salahsatu pengguna TMS di Indonesia yang membocorkan isi didalamnya kepada publik, PSSI pun turut didenda atas kecerobohan hal ini,” pungkas Reza Katamsi. (AHS)