Empat kali bertanding di Go-Jek Traveloka Liga 1 2017, empat kali pula Borneo FC tak disiarkan secara langsung. Kondisi ini lantas membuat gundah seluruh pendukung skuad berjuluk Pesut Etam. Tak hanya itu, soal segi bisnis tim juara Divisi Utama 2014 juga dilanda kekhawatiran.



Padahal saat Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016 lalu, Borneo FC menjadi tim tertinggi dalam hal pendapatan dari rating tv di Indonesia bagian timur. “Musim lalu saat ISC A 2016 performa rating tv kami tertinggi di Indonesia Timur, kami khawatir musim ini di Liga 1 raihan itu akan merosot seiring dengan jarangnya kami disiarkan,” urai Reza Katamsi, Vice Chief Marketing Officer Borneo FC.


“Dari 18 klub, Borneo FC ada di posisi 8 dengan rating total 15,1 dan share total mencapai 85,4, klub Indonesia Timur dibawah kami yang terdekat ada PSM di posisi 10 dengan persentase pendapatan tambahan 4.00 persen, sedangkan kami dapat 6.00 persen,” tambah Reza.


Reza pun menolak jika dianggap skuad Pesut Etam tak menjual. “Saya rasa itu berlebihan, karena kalau kami tim tidak menjual patokannya ya data rating musim lalu, seperti yang saya bilang, data menunjukkan kami paling tertinggi di Indonesia Timur. Apalagi kalau bicara materi pemain, kami salahsatu tim yang memiliki marquee player,” terangnya.


Disisi lain, Borneo FC disebutnya telah menanyakan perihal ini kepada operator, namun hingga saat ini belum ada jawaban pasti terkait hal tersebut. “Silahkan di cek, kami salahsatu tim yang paling sering melakukan protes resmi, kami protes karena kami peduli agar kompetisi ini bermutu, kami protes dengan disertai saran dan masukkan. Besar harapan kami kedepan bisa lebih adil lagi,” pungkasnya. (AHS)