PT Liga Indonesia Baru (LIB) menangguhkan implementasi Regulasi Go-Jek Traveloka Liga 1 2017 terkait kewajiban memainkan pemain berusia di bawah 23. Kondisi itu berlaku hingga SEA Games XXIX-2017 Kuala Lumpur, Malaysia, rampung.


Sebelumnya, 18 klub kontestan Liga 1 diwajibkan memainkan minimal tiga pemain berusia di bawah 23 sejak menit pertama, dengan durasi main minimal 45 menit pada tiap laganya.


Aturan itu sendiri tertuang di Regulasi Go-Jek Traveloka Liga 1 2017 pasal 16 tentang pertandingan. Dalam ayat 6 dijelaskan klub wajib memainkan sekurang-kurangnya 3 pemain berusia di bawah 23 sejak laga dimulai (kick-off) dengan durasi bermain sekurang-kurangnya 45 menit dalam setiap pertandingan.


Tak cuma pemain yang bermain, dalam ayat lainnya di pasal 16, pun diatur soal jumlah pergantian pemain. Persisnya dalam ayat 3, yang tertulis kecuali ditetapkan lain FIFA dan/atau PSSI, hanya 5 pemain cadangan yang terdaftar dalam formulir pertandingan dapat bermain dalam pertandingan dengan komposisi 3 pemain selain pemain di bawah usia 23 dan 2 pemain di bawah usia 23.


Dalam proses pergantian pemain, wasit cadangan harus menggunakan papan pergantian pemain yang terdapat nomor di ke-2 sisinya. Seluruh pemain asing yang telah terdaftar dan mendapat pengesahan dapat bermain dalam pertandingan.


Namun, melalui surat nomor 155/LIB/VI/2017 tertanggal 29 Juni 2017 yang ditujukan kepada manajemen klub peserta Go-Jek Traveloka Liga 1 2017, PT LIB selaku operator kompetisi menyampaikan jika regulasi terkait kewajiban memainkan pemain berusia 23 ditangguhkan sejak pekan ke-12, yang bergulir mulai 3 Juli 2017 hingga pekan ke-22 yang berakhir pada 31 Agustus 2017. Regulasi terkait kewajiban memainkan pemain muda in bakal mulai berlaku lagi pada 1 September 2017.


Dirilis dari laman resmi PT LIB, keputusan itu sendiri dianggap sesuai regulasi. Didasarkan pada keputusan PSSI yang disampaikan kepada PT LIB melalui surat nomor 1601/UDN/916/VI-2017 tertanggal 28 Juni 2017. Dalam surat yang ditandatangani Plt Sekretaris Jenderal PSSI Joko Driyono, PSSI juga memutuskan aturan yang berlaku sepanjang implementasi regulasi terkait kewajiban memainkan pemain berusia di bawah 23 ditangguhkan.


Klub kontestan Go-Jek Traveloka Liga 1 2017 diizinkan memainkan semua pemain yang telah terdaftar dan mendapat pengesahan. Selain itu, penangguhan regulasi itu juga diikuti perubahan terkait jumlah maksimal pergantian pemain di tiap laga Go-Jek Traveloka Liga 1 2017.


Dari maksimal 5 pergantian pemain (2 pergantian pemain di antaranya adalah pemain berusia di bawah 23) menjadi maksimal 3 pergantian pemain. Jumlah pemain cadangan yang duduk di bench pun direduksi dari maksimal 9 pemain (2 pemain di antaranya berusia di bawah 23) menjadi 7 pemain.


Lebih jauh, PSSI sendiri tak serta merta mengambil keputusan untuk meminta PT LIB menangguhkan implementasi Regulasi Go-Jek Traveloka Liga 1 2017 terkait kewajiban memainkan pemain berusia di bawah 23. Dalam suratnya, PSSI pun menjelaskan sederet pertimbangan yang menjadi dasar keputusan itu.


Pertama, tidak ada lagi proses seleksi pemain timnas U-22 Indonesia yang disiapkan tampil di SEA Games XXIX-2017 dan Kualifikasi AFC U-23 Championchip 2018 karena sudah didaftarkan ke AFC. Ke-2, menjunjung aspek fairness mengingat jumlah pemain yang diambil dari tiap klub untuk memperkuat timnas U-22 Indonesia tidak merata.


Dan masih dari laman resmi PT LIB, menurut mereka tak kalah penting, keputusan ini juga untuk menjaga kualitas serta popularitas Go-Jek Traveloka Liga 1 2017.


Pasalnya, tak sebatas klub, Go-Jek Traveloka Liga 1 2017 sebagai kasta tertinggi kompetisi sepakbola profesional di Tanah Air juga akan kehilangan pemain-pemain muda berusia di bawah 23 terbaik selama timnas U-22 Indonesia tampil di Grup H Kualifikasi dan SEA Games XXIX-2017.


Terkait hal itu, Presiden Borneo FC, Nabil Husein Said Amin pun mengaku sudah menerima kabar soal penangguhan regulasi tersebut. "Kami klub kecil, hanya bisa menerima, manut aja," jawabnya dengan intonasi sarkas.


Ia pun menilai ada sisi positif dan negatif akibat penangguhan regulasi tersebut. Salah satu sisi negatifnya yaitu membuat kans bermain pemain U-23 semakin berkurang.


"Menurut saya ada plus minusnya karena. Plusnya untuk klub yang bermasalah dengan regulasi ya sangat membantu. Tapi untuk klub yang kiranya tidak bermasalah ya akan dirugikan. Terutama yang mengandalkan pemain muda," ucap orang nomor satu di Borneo FC.


Ditengah waktunya mendampingi Borneo FC berlatih perdana pascalibur di Stadion Segiri, Samarinda, Kamis (29/6/2017) malam. Ia menilai regulasi soal pemain U-23 seperti lelucon. Pasalnya regulasi tersebut berubah di tengah jalan, padahal baru diterapkan saat Liga 1 2017 dimulai.


"Menurut saya agak lucu peraturan bisa berubah ditengah jalan. Jadi terkesan masih plin-plan. Semoga diterapkannya aturan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan klub tertentu sehingga aturan bisa dirubah," pungkasnya. (*/DMZ/AHS)