Duduk di posisi 12 dengan poin 20, Borneo FC kini sudah kebobolan 19 gol. Dari seluruh gol yang diceploskan lawan itu, 18 gol terjadi di luar kandang. Sementara ketika bermain di Stadion Segiri, Pesut Etam baru sekali saja kebobolan.


Atas hasil itu Pelatih Borneo FC, Ricky Nelson berupaya memperbaiki cara bertahan tim. Pertama yang akan dijalankan memperbaiki koordinasi bertahan. Tak hanya dilakukan lini belakang semata, pemain gelandang dan penyerang juga punya kewajiban itu. "Sudah selayaknya sebuah tim saat bertahan dan menyerang melakukannya bersama," kata Ricky.


Awal-awal ini, ia pun memastikan bakal siapkan metode bertahan yang efektif kepada pemainnya. Baru selanjutnya akan bersiap untuk skema menyerang seperti yang diinginkannya. "Kalau menyerang terus tetapi tak perhatikan pertahanan kan bahaya juga. Jadi saya akan perbaiki pertahanan dulu," sebutnya.


Kenapa ia begitu perhatian dengan metode bertahan yang selama ini dipakai. Sebab pelatih asal Kupang, Nusa Tenggara Timur ini melihat jumlah kebobolan yang begitu tinggi. "Baru bermain 15 pertandingan tapi sudah kebobolan 19 gol. Hal ini yang membuat saya bingung, harus ada perbaikan untuk ini," imbuhnya.


Kemudian, ia juga menyinggung soal beban berat yang ia tanggung saat ini. Sebab, ekspektasi warga Samarinda terhadap Borneo FC usai mengganti pelatih tentu ingin perubahan. Untuk itu ia ingin permainan Ponaryo Astaman dan kawan-kawan harus berbeda dari sebelumnya. "Saya melanjutkan, pemain yang ada bukan saya yang bangun dari awal. Tapi ini tantangan bagi saya," bebernya.


Maka yang diubah lebih dulu adalah metode bertahan para pemainnya dan selanjutnya berganti menjadi menyerang. Skema dan taktik yang ingin ia terapkan pun pasti berbeda dan akan disesuaikan dengan pemain yang ada. "Saya sudah evaluasi tim keseluruhan, maka perubahan mendasar dari taktik bermain pasti ada," tandasnya. (HFZ/KOK)