Setelah didatangkan dari Brazil sebagai pelatih kiper Borneo FC, Luizinho Passos, merasa tak ada kendala berarti baginya tinggal di Indonesia. Diterangkannya, tak ada perbedaan antara negara asalnya dengan saat ia berada di Indonesia. Hal itu yang membuatnya cepat beradaptasi.


Eks pelatih kiper Cruzeiro Esporte Clube (klub besar di Brazil) itu bahkan turut memboyong anak istrinya ke Samarinda. Di Kota Tepian, Luizinho dan keluarga menetap di kawasan Villa Tamara, Samarinda Ulu. “Disini bagus, sangat mudah untuk jatuh cinta dengan Indonesia,” paparnya.


Ditanya perihal makanan, Luizinho Passos dan keluarga pun tak ada kendala. Dijelaskannya, di Brazil semua orang juga mengkonsumsi nasi. “Jadi tidak ada masalah, semua bagus, makanan bagus, orang-orang juga bagus, saya dan keluarga suka disini,” tambah pelatih berusia 42 tahun itu.


Meski masih terkendala bahasa dalam berkomunikasi, Luizinho menilai hal itu sebagai hal lumrah. “Untuk itu saya sekarang belajar bahasa Indonesia, setiap hari saya belajar dengan para pemain, official dan juga teman saya disini. Saya tidak terlalu bagus bahasa Inggris, jadi saya lebih suka untuk belajar bahasa Indonesia,” ungkapnya.


Bahasa memang menjadi teramat penting dalam komunikasinya, terutama saat melatih tiga penjaga gawang Borneo FC, Muhammad Ridho, Nadeo Argawinata dan Davit Arianto. Ditangan Luinzinho, skill mereka tampak diasah. “Saya berkomunikas sebaik mungkin dengan mereka, berbahasa Indonesia adalah salahsatunya,” tambah Passos.


Hal itu juga diakui, Muhammad Ridho, kiper utama Borneo FC. Kiper asal Pekalongan itu menerangkan sejauh ini komunikasinya dengan pelatih berkepala plontos itu berjalan baik. “Kadang jika kami tidak paham, dia ambil handphone dan kami pakai aplikasi penerjamah, jaman sudah canggih jadi kami tidak ada masalah dengan komunikasi, apalagi pelatih ini mau belajar bahasa Indonesia, ini akan sangat bagus kedepannya,” tandas Ridho. (AHS/KOK/*)