Ingin tampil beda dibanding klub lain di Samarinda, PBFC menargetkan mimpi tinggi membentuk klub sepak bola profesional baru di kota tepian. Seperti diketahui, demi hal tersebut, Pusamania Borneo FC (PBFC) rela mengucurkan dana yang cukup besar untuk membeli lisensi tanding Perseba Super, peserta Divisi Utama Liga Indonesia.


Usai membeli Perseba, nama tim pun dirubah menjadi Pusamania Borneo FC. Tak hanya itu, badan hukum tim berjuluk Pesut Etam itupun kini berada di bawah naungan PT Nahusam Pratama Indonesia.


Sederet nama pemain beken pun diboyong. Selain hampir seluruh pemain Perseba didatangkan ke Samarinda, seperti Danilo Fernando. Beberapa pemain anyar berpengalaman pun dikontrak guna memperkuat PBFC. Sebut saja, Akbar Rasyid, Gangga Mudana, Usep Munandar, Rahmat Latief, Bayu Cahyo, Panggah Madyantara, Arief Supriatna serta Fernando Soler.


Memilih Stadion Segiri Samarinda yang sebelumnya digunakan Persisam Putra (Kini bernama Putra Samarinda), menempatkan posisi PBFC lebih menguntungkan. Ikatan kuat dengan kelompok suporter Pusamania tambah terjalin lebih kuat. Pemilihan nama Pusamania pun sedikit banyak berdasarkan dari pengaruh kuat dukungan dari ribuan Pusamania, terhadap terbentuknya klub bari yang memiliki prestasi.


Saat inipun, PBFC sedang dalam jalur positif. Berada dipuncak klasemen Divisi Utama Grup VI, proses pembuktian PBFC memang masih panjang. Tapi dengan niat, mengemas PBFC sebagai tim bermental juara bukan untuk menjadi penggembira membuat tim ini perlahan mulai dicintai masyarakat Samarinda.


"Memang butuh waktu dan proses. Tapi, musim ini harus lolos dulu. Tunggu saja kami di ISL musim depan," ujar owner OBFC, Nabil Husein optimis.


Target berat menembus ISL. dimusim berikutnya sudah digadangkan. Nabil tahu itu bukan tugas mudah. Nabil tahu itu bukan tugas mudah. Setiap kompanen dari PBFC harus bergerak seirama menapaki target itu selangkah demi selangkah. Tak heran jika pelatih berbakat sarat pengalaman sekelas Iwan Setiawan didatangkan untuk membesut Pesut Etam ini.


Target yang tinggi, sudah semestinya berbungkus anggaran yang tinggi juga. Meski tak mendetail, Nabil menurutkan, dana kompetisi sudah disiapkan jauh hari, termasuk anggaran untuk alasan mendesak, seperti membeli pemain baru. "Sebenarnya tak jauh berbeda dengan tim lain," sebutnya.


Pernyataan yang sama juga disampaikan CEO PT Nahusam Pratama Indonesia, Abdul Bari Al-Katiri. "Yang jelas saat berjalan nanti, menyesuaikan keburuhan tim saja," timpalnya.


Selain berlaga di ISL musim depan, PBFC punya ambisi besar menjadi tim elit Asia dimasa mendatang. "Saya ingin tim ini tidak hanya menjadi tim elit di Indonesia, tapi juga menjadi tim yang bisa bersaing di Asia. Level kita harus disitu (Asia) nantinya," koar Nabil.


Mendukungnya, program ambisius juga diprogramkan. Seperti membangun akademi sepakbola yang nantinya mampu menelurkan pemain berbakat untuk bermain di liga terbaik Asia.


"Saya sudah membuka komunikasi dengan tim-tim di Inggris, seperti Liverpool. Ada juga klub J-League (Liga Jepang) untuk bekerjasama soal pengembangan pemain usia dini, jadi nantinya PBFC akan terintegrasi dengan klub mereka. Tujuannya agar bakat lokal di Kaltim bisa menjadi besar nantinya. Saya dan ayah (Said Amin) sudah menyiapkan lahan untuk membuat akademi ini," tutup Nabil. (akm/pace)