Asa Borneo FC menjamu Persib Bandung (17/9) di Stadion Utama Palaran pupus. Venue yang pernah menjadi kebanggaan Kaltim ini tak bisa menggeber laga malam karena pencahayaannya di bawah standar.

Sesuai regulasi dari PT Liga Indonesia Baru (LIB), setiap klub wajib bertanding di stadion yang memiliki pencahayaan minimal 800 lux. Hal ini dilakukan sekaligus permintaan pihak televisi yang ingin memberikan tontonan berkualitas. Vice Chief Marketing Officer Borneo FC Reza Katamsi menuturkan, pihaknya telah mengukur pencahayaan di Stadion Utama Palaran. Hasilnya cukup menyedihkan yakni 585 lux.


"Banyak lampu yang tidak berfungsi dengan normal. Jadi hanya mampu terang hingga 585 lux," ucap Reza.


"Pengecekan lux stadion kami sudah paham caranya. Hasilnya di Palaran memang hanya 585 lux. Masih banyak kurangnya," imbuhnya. Upaya manajemen untuk memaksakan laga di Palaran tetap tak bisa. Pasalnya, keringanan untuk bermain di stadion yang memiliki pencahayaan 800 lux tak bisa ditoleransi.


"Komitmen PT LIB minimal 800 lux. Kalau main live di bawah itu pasti ditolak. Kecuali tidak disiarkan atau bermain sore boleh. Tentu kami tetap bisa bermain di Stadion Segiri," paparnya.


Sebagai alternatif, Borneo FC terpaksa harus menjamu Persib di Stadion Batakan, Balikpapan. Hal ini karena Stadion Aji Imbut bakal dipakai Mitra Kukar bertanding di hari yang sama.


"Sesuai regulasi tidak boleh menggelar dua pertandingan di stadion yang sama. Jadi kami pilih Stadion Batakan yang sejauh ini memenuhi standar dari PT LIB," pungkasnya. (NET/KOK)