Ambisi anak-anak Borneo FC U-19 melangkah ke partai puncak kompetisi Liga 1 U-19 akhirnya pupus. Di babak semifinal yang berlangsung di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Borneo FC harus mengakui keunggulan lawan dengan skor 1-3. Tiga gol Persib lahir dari kaki Beckham Putra Nugraha di menit 8 dan 90+5, serta sebiji gol dari Ilham Qolba. Sementara satu-satunya gol Pesut Etam lahir dari tendangan Ulul Azmi di menit 23. Kekalahan ini membuat Borneo FC gagal melakukan revans atas lawan yang sama di musim lalu. Di mana di babak yang sama, Persib juga mengandaskan mimpi Borneo FC untuk melenggang ke partai puncak.


Ponaryo Astaman, pelatih Borneo FC usai pertandingan mengaku perjuangan pemainnya sudah sangat maksimal di laga ini. Kerja keras selama 90 menit lebih, memang secara hasil tak berpihak pada timnya.


“Ini pertandingan cukup sengit dan ketat. Kedua tim sama-sama tampil bagus. Saya tetap salut dengan perjuangan pemain saya, yang terus mengejar ketertinggalan di babak kedua,” terang Popon, sapaan akrabnya.


Di awal permainan Borneo FC sebenarnya tampil lebih menyerang. Namun justru lawan mencetak gol terlebih dahulu. Tersentak gol lawan, Borneo FC lebih meningkatkan tekanan sampai akhirnya gol balasan lahir dari kaki Ulul. Di babak kedua terjadi kesalahpahaman soal bola fair play. Bola yang seharusnya dibuang, justru dimainkan pemain Persib sampai akhir terjadi gol kedua Maung Bandung junior. Gol ini sempat diprotes pemain Borneo FC, namun wasit tetap mengesahkan gol tersebut.


“Itu harusnya bola fair play, tetapi pemain Persib tetap memainkannya dan menyerang sampai akhirnya terjadi gol,” kata Nurdiansyah, kapten Borneo FC.


Tertinggal 1-2 membuat Popon memainkan dua striker di akhir pertandingan. Opsi ini memang berisiko, namun Popon mengaku tak ada pilihan. Dan saat Borneo FC menyerang, lini belakang kembali kecolongan lewat Beckham, yang juga adik kandung dari Gian Zola, gelandang Persela asal Persib.


Di laga ini permainan kerap dihentikan karena banyak pemain mengalami cedera. Termasuk sempat terjadinya chant rasis yang membuat wasit menghentikan laga. Menurut Popon, sangat wajar pemain mengalami cedera karena padatnya jadwal pertandingan.


“Semua pemain sudah melewati jadwal sangat padat. Di 8 Besar mereka bermain 3 kali dalam tempo 5 hari. Jadi wajar jika banyak pemain cedera. Apalagi setelah 8 besar, tak banyak waktu beristirahat bagi pemain menuju semifinal ini,” tambah. Popon.


“Kami memang gagal ke final, tetapi kami masih bisa mengejar juara tiga di pertandingan berikutnya,” kata Nurdiansyah. (NET/KOK)