Musim kompetisi 2020 menurut rencana dalam dua bulan ke depan kembali akan digulirkan. Bursa transfer pemain dan pelatih pun terus terjadi hingga saat ini. Kejutan soal transfer pemain pun juga terjadi pada beberapa klub, tak terkecuali pelatih. Dan musim 2020 dipastikan akan kembali menyita tenaga, energi dan pikiran semua elemen yang berlaga di kompetisi tersebut, termasuk Borneo FC.

Sejak promosi ke kasta tertinggi sepak bola nasional pada 2014 lalu, artinya sudah 6 tahun Borneo FC berada di Kota Tepian untuk menjadi salah satu hiburan masyarakat Samarinda. Tentu bukan hiburan murah, karena banyak sekali biaya dikeluarkan untuk menjadikan Borneo FC terus eksis di Liga 1, serta menjadi kebangaan Kota Tepian. Dilepasnya Putra Samarinda ke Bali dan berganti nama menjadi Bali United, harusnya membuat Borneo FC menjadi tontonan utama setiap pertandingan dimainkan di kandang. Namun sulitnya, harapan manajemen klub khususnya Nabil Husein Said Amin sebagai pemilik klub, belum berjalan seperti diharapkan. Tingkat kehadiran penonton tak selalu banyak, meski di beberapa pertandingan musim lalu mampu menghadirkan 6 ribu lebih masyarakat Samarinda ke Stadion Segiri.

Tingkat kehadiran penonton terbanyak terjadi pada final Piala Gubernur Kaltim I 2017 lalu, saat dimainkan di Stadion Utama Kaltim, Palaran. Semua kursi saat itu penuh dari suporter Borneo FC untuk mendukung perjuangan Ponaryo Astaman dkk menghadapi Madura United. Namun sejak itu, dukungan terus menurun ketika tim berlaga di kompetisi reguler.

“Satu hal yang sering saya tanyakan dalam diri sendiri, soal tidak antusiasnya warga Samarinda datang ke Stadion Segiri. Ini bukan setahun atau dua tahun saya pikirkan, tetapi sejak tim ini hadir di Samarinda dan menjadi salah satu bagian yang mengangkat nama daerah,” ujar Nabil.

Ya, Nabil selama ini bisa dikatakan berjuang sendiri membawa Borneo FC hingga eksis di sepak bola nasional. Tak banyaknya sponsor seperti tim sekelas Persija Jakarta, Persib Bandung atau bahkan Bali United, Borneo FC terus berusaha bertahan memberikan hiburan pada publik Samarinda. Namun yang terjadi tak sesuai ekspektasi. Dukungan kepada tim di setiap pertandingan tak kunjung maksimal. Bahkan saat tim tengah berada di ujung perjuangan menjadi runner up musim lalu, dimana dukungan penuh harusnya benar-benar diberikan di tiap pertandingan. Namun sayang, asa melihat Stadion Segiri penuh tak pernah terwujud.

Walau demikian, Nabil tak mau menjadikan hal tersebut sebagai alasan dirinya tak lagi memperjuangkan tim yang dibangunnya tenggelam. Isu akan dijualnya tim, nyaris hadir setiap tahun. Faktanya, Nabil tak pernah menginginkan Borneo FC hengkang layaknya Putra Samarinda.

“Ini bukan soal berapa banyak yang sudah saya keluarkan untuk tim, namun ini soal hati. Kalau bukan masalah hati, sudah lama saya menjual tim ini, apalagi sudah ada yang berminat. Namun ini bukan soal uang semata,” terangnya.

Dan di musim 2020, Nabil berharap dukungan lebih masif bisa diperlihatkan kepada Borneo FC. Ia sadar ibarat manusia, usia 7 tahun sejak tim berdiri bisa dikatakan masih sangat bayi. Tapi ia yakin, dengan dukungan besar maka tim akan menjadi besar walau usinya masih sangat belia.

“Sikap saya dan harapan saya kepada warga Samarinda hanya satu, jangan pernah tinggalkan kami di sini, karena kami berjuang untuk kalian. Apa yang saya lakukan selama ini semua demi Samarinda. Saya tak memikirkan masalah besarnya dana, tetap mari bersama membangun Borneo FC agar menjadi besar, dengan hadir di stadion memberikan dukungan di setiap pertandingan,” pungkasnya. (UPI)