Kiper Borneo FC Samarinda, Gianluca Pandeynuwu, menceritakan perjalanan kariernya hinga menjadi andalan Borneo FC Samarinda di bawah mistar gawang. Gianluca Pandeynuwu, namanya mencuat musim ini setelah tampil apik bersama Borneo FC Samarinda di laga awal musim ini.

Di laga perdananya ia tampil heroik saat bertanding menghadapi Persija Jakarta. Walaupun saat itu Borneo FC takluk 3-2 atas tuan rumah, penampilan Gianluca tidak bisa dianggap enteng.Ia bahkan sempat mendapat benturan yang memaksanya mengenakan perban saat pertandingan dilanjutkan.

Di laga-laga selanjutnya ia berhasil menjaga gawang tim Pesut Etam hingga mendapat satu kali nirbobol sat menghadapi Persipura Jayapura. Dengan usianya yang masih 22 tahun, saat ini Gianluca menjadi salah satu kiper potensial yang dimiliki Indonesia.

Pertemuannya dengan sepakbola tidak lepas dari peran sang ayah yang juga seorang mantan penjaga gawang, Hendra Pandeynuwu. Namun sejujurnya Gian, sapaan akrab Gianluca tidak pernah diarahkan oleh sang ayah untuk menjadi penjaga gawang. Justru keinginanya pada masa kecil adalah menjadi seorang striker.

Namun apa hendak dikata, seperti pepatah buah tidak jatuh tidak jauh dari pohonnya, ia pun diminta untuk menjadi penjaga gawang oleh sang pelatih. “Jujur, ya, waktu kecil memang enggak diarahin sama papa. Cuma kalau papa latihan, waktu dulu papa masih aktif jadi kiper. Kalau ikut ke lapangan ya bantu-bantu ikut nangkap sedikit," kata Gianluca. .

"Nah, saya dulu waktu kecil gendut, badan gembul. Kalau di kampung, anak-anak yang paling gendut jadi kiper. Saya yang disuruh jadi kiper berhubung juga papa saya kiper juga," ujar Gianluca.

“Pas SMP pertama kali ikut pertandingan, awalnya saya ingin jadi striker, saya bilang 'Coach, saya striker, Coach'. Terus coach bilang 'Ah enggak, kamu kiper saja, bapakmu kiper juga soalnya'. Iya sejak itu jadi kiper sampai sekarang,” ucap pemain berusia 22 tahun tersebut.

Menginjak usia remaja Gianluca pun ingin mewujudkan keinginannya untuk menjadi pemain profesional. Pada tahun 2015, ia bergabung bersama Borneo FC Samarinda U-21. Namun sayangnya Gian belum dapat mencicipi kompetisi saat itu karena sepakbola Indonesia dibekukan oleh FIFA.

"Awalnya 2015 itu di Borneo Junior sudah masuk liga, eh berhenti. Terus kami balik, cuma waktu itu papa bilang, 'Kamu tetap latihan saja, kamu fokus latihan-latihan dan persiapan, mungkin sepak bola tahun 2015 itu enggak bakal setahun berhentinya'," kata Gianluca.

Nasib baik, kesempatan kedua datang kepada Gian setelah manajemen Borneo FC Samarinda mengontaknya untuk ikut bergabung di tim Nahusam. "Pas bulan Agustus, bos Nabil (Nabil Husien, Presiden Borneo FC Samarinda) telepon, 'Ayo, Gian, main sama tim Nahusam sambil jaga kondisi'. Akhirnya berangkat ke sana karena ada hubungan baik," ujarnya.

"Pas 2016 gabung lagi dapat kesempatan masuk di senior, sampai sekarang sudah dapat menit bermain," kata Gianluca.

Sempat dipinjamkan ke PSPS Pekan baru pada musim 2017, Gianluca kembali menghiasi skuad Borneo FC Samarinda dua musim ke belakang. Namun begitu sekembalinya ke Pesut Etam, Gianluca masih menjadi kiper pelapis dari Nadeo Argawinata. Ia baru meraih kesempatan menjadi kiper utama pada musim ini setelah Nadeo hengkang dari Borneo FC Samarinda ke Bali United. (SU)