Sikap tak mengedepankan nilai sportivitas diusung Persis Solo saat timnya dijadwalkan untuk bertanding melawan Pusamania Borneo FC (PBFC) di Stadion Segiri Samarinda, Minggu sore (26/10).


Dalam kurun waktu tak kurang dari 24 jam sebelum kickoff, Laskar Sambernyawa mengambil tindakan sepihak. Mereka tak ingin bermain dan mengibarkan bendera putih tanda menyerah lebih cepat. Alhasil, konsekuensinya mereka dinyatakan kalah walk out.


Urungnya Persis bertanding disesalkan banyak pihak, salahsatunya kubu lawan, PBFC. Menurut Direktur Bisnis, Marketing dan Promosi PBFC, Muhammad Novi Umar, pihaknya menjadi hal yang dirugikan.


"Persiapan panpel sudah 100 persen, dananya pun tidak sedikit, eh pertandingannya gagal digelar karena lawan angkat tangan duluan sebelum bertanding, inikan merusak nilai sportivitas," bebernya.


Alasan Persis Solo tak mendapat pengawalan selama di Samarinda, juga dibantah. Menurutnya panpel PBFC sudah menjalankan prosedur penjamuan sesuai manual liga. Panpel PBFC juga menerapkan SOP (Standard Operating Procedure) yang biasa dilakukan. Maklum, sebelum turun ke Divisi Utama, Samarinda sudah berpengalaman menggelar laga ISL.


"Contoh kecil saat mereka menolak latihan sore, panpel menawarkan opsi latihan Persis menjadi malam hari dengan jaminan keamanan, kami berusaha tetap mengakomodir, eh justru saya dengar pihak Persis sendiri yang bilang, tanpa ujicoba lapangan kami tetap siap bertanding. Tapi sekarang tiba-tiba pulang tanpa pamit," tuturnya.


Disisi lain, ketua panpel PBFC, Gatot Susilo berang dengan tindakan Persis Solo pulang tanpa ijin. Menurutnya, alasan yang digembar-gemborkan Persis Solo di akun twitter resmi terlalu didramatisir.


"Kami berusaha mengakomodir apa yang sudah menjadi hak mereka, tapi apa yang disebarkan mereka lewat rilis (di twitter) itu terlalu berlebihan, berbanding terbaik saat mereka berhadapan dengan kami, saya heran maksud tujuannya itu supaya apa," sahutnya. (Kibo)