"Mafia? Kalau ada mafia di PBFC, kami tidak perlu capek-capek datang ke stadion beri dukungan ke tim,"


Kalimat itu keluar dari dirijen suporter Pusamania, Hendrik. Mewakili teman-temannya, Hendrik menerangkan tuduhan yang tak berbukti oleh pihak yang tak bertanggung jawab kepada timnya sudah diluar batas dan harus segera dihentikan.


"Kami hanya minta jangan terlalu mencampuri tim kami, apalagi hanya bermodalkan katanya, kabarnya tanpa adanya bukti kuat. Tim ini dibentuk dengan jerih payah banyak pihak yang ingin menciptakan prestasi dan perlu diingat, PBFC sampai ditahapan ini juga ada keringat pemain di atas lapangan," bebernya.


Disisi lain, Sekjen Pusamania Abdus Somad Fauzan juga angkat bicara. Diungkapkannya kemunculan Pusamania Borneo memang diluar prediksi banyak pihak. Apalagi target yang diusung dan cara kerja manajemen yang profesional ditunjang dengan finansial kuat dari PT Nahusam Pratama Indonesa selaku badan hukum PBFC pimpinan H Nabil Husein Said Amin membuat para kompetitor ketar-ketir.


"Yang lucu, jika kami menang disebut mafia, jika tim ini kalah dibilang kehendak tuhan. Mereka ini tidak siap ke sepakbola industri, mending minggir bikin liga amatir aja, daripada bicara nggak jelas," urainya.


Seperti diketahui, tuduhan kepada PBFC diback-up mafia sepakbola semakin dirasakan ketika PSS Sleman dan PSIS Semarang memainkan sepak bola gajah. Meski sudah dibantah kedua tim, namun oknum tak bertanggung jawab tetap mengembuskan itu tersebut karena menghindari PBFC yang disetting PSSI menjadi juara Divisi Utama.


"Daripada terus menyangkut pautkan PBFC dengan mafia yang sampai saat ini tidak ada buktinya, ada isu yang lebih hangat dari itu. Kita sudah bicara sepak bola industri ini, bukan jamannya lagi ngerecokin tim orang lain," pungkasnya. (Pace)