Gelar “bayi ajaib” kini melekat di tubuh Pusamania Borneo FC (PBFC). Maklum belum genap setahun berdiri, mereka sudah membuat sensasi. Mengawali kiprah di pentas Divisi Utama 2014, semusim kemudian mereka sudah tembus kompetisi kasta tertinggi nasional, Indonesia Super League (ISL).


Sebagai rookie dunia kulit bundar nasional, tim berjuluk Pesut Etam ingin memberi impresi baik. Sembari menjalani pemusatan latihan di Jakarta, mereka hampir merampungkan proses melengkapi komposisi tim. Menyiapkan kuota sebanyak 27 pemain, 25 di antaranya sudah terisi. Manajemen menjanjikan, dalam waktu dekat jumlah tersebut sudah terlengkapi.


Menghadapi kompetisi berlevel berbeda, perombakan besar dilakukan manajemen. Hanya sebagian kecil (delapan) nama musim lalu yang dipertahankan. Sisanya, mendatangkan sejumlah nama yang tenar dalam kurun waktu empat tahun terakhir jadi pilihan mereka.


Bermodal rupiah puluhan miliar, mendatangkan pemain berkualitas wahid tidak jadi perkara sulit. Sebut saja para (mantan) penggawa timnas, seperti Hamka Hamzah, Oktovianus Maniani, dan Egi Melgiansyah. Tidak perlu melalui masa negosiasi lama, mereka dengan mudah berseragam Pesut Etam.


Yang menarik, sebagian besar rekrutan anyar mereka memiliki usia di atas rata-rata klub Tanah Air yang mulai mengutamakan potensi pemain muda. Tercatat rerata usia mereka di angka 27 tahun, dengan pemain tertuanya adalah Usep Munandar yang menginjak usia 33. “Sementara ini usia tidak menjadi masalah. Bergabung dengan tim ini, mereka tetap mengikuti tahap seleksi. Terpenting adalah kualitas. Tetap ada tempat bagi para pemain muda berkualitas untuk turut bergabung dalam tim,” jelas Presiden PBFC, Nabil Husein Said Amin.


Belum lagi anggapan manajemen masih “terjebak nostalgia” lantaran memanggil sejumlah pemain yang pernah berseragam Persisam Putra, tim yang pernah bermarkas di Samarinda dan kini pindah ke Bali dengan nama baru, Bali United Pusam. Sebut saja Hamka Hamzah, Usep Munandar, Fandi Mochtar, Srdjan Lopicic, hingga yang muda, yakni Aldaier Makatindu.



Ya, bisa jadi demikian, mengingat sebagian besar manajemen merupakan mantan pendukung tim berjuluk Pesut Mahakam tersebut sebelum mendirikan PBFC. Meski begitu, manajemen menepisnya. “Kami membentuk ini bukan untuk bernostalgia. Kehadiran mereka murni karena kualitas yang menurut kami masih mumpuni,” terang Nabil. (Rendy/Kape)