Suasana latihan Pusamania Borneo FC (PBFC) Selasa pagi (27/1) kemarin tampak berbeda, jika sehari berselang mereka hanya berlatih ringan dibelakang gawang, pagi kemarin Okto Maniani dan kawan-kawan digeber fisik.


Dijelaskan manager PBFC, Dandri Dauri, hasil VO2 Max yang mereka lakukan bakal digunakan sebagai acuan melihat kemampuan sejauh mana fisik skuadnya jelang Indonesia Super League (ISL) 2015.


"Tes fisik ini dilakukan untuk mengetahui kapasitas seorang pemain, dan akan diimplementasikan saat berlatih dengan hasil yang diraih saat VO2 Max sehingga dia bisa lebih efektif saat pertandingan," ujar mantan ketua POBSI itu.


"Sayang dalam latihan kemarin pagi, ada sekitar delapan pemain yang kurang memuaskan hasilnya, tapi itu tidak jadi masalah, kami akan tuntut mereka agar bisa memperbaiki catatan mereka," tambah Dandri.


Menurut Dandri sebenarnya hasil VO2 Max bukan penentu utama fisik pemain dalam pertandingan. Bahkan dinilainya, banyak pemahaman yang kurang tepat di Indonesia mengenai hal ini.


"Terutama soal pemberitaan di media, pemain yang baru mendapatkan hasil bagus VO2 Max nya pasti dinilai paling hebat fisiknya. Padahal belum tentu begitu, tidak semua VO2 Max pemain tinggi lalu dia mampu bertahan selama 90 menit," jelasnya.


Meski demikian, pemain tetap dituntut memiliki VO2 Max tinggi diskuad, untuk itu faktor genetik setiap pemain juga menentukan penilaian pihaknya. "Karena faktanya pemain yang lama di dataran tinggi biasanya lebih tinggi VO2 Max nya ketimbang pemain yang lahir di dataran rendah. Gimana agar mereka tetap tinggi VO2 Max nya, ya dengan latihan intensif," pungkas Dandri Dauri. (Abe)