Sebanyak 27 pemain Pusamania Borneo FC mengikuti latihan militer singkat sejak Kamis lalu. Sejak berangkat dari Stadion Segiri, Kamis (19/3/2015), semua pemain PBFC diangkut menggunakan truk bak terbuka militer menuju markas Bataylon. Dan berikut hari ke hari Okto Maniani cs mengikuti latihan militer:


Hari Pertama: Latihan Fisik dan Rohani
Setibanya di Markas Bataylon 611/Awang Long, Loa Janan, Kalimantan Timur, Okto dan kawan-kawan disambut letusan bedil. Peluru hampa sengaja ditembakkan ke udara untuk menghidupkan lagi semangat pasukan Pesut Etam, sekaligus penyambutan, semacam ucapan selamat datang ala militer di Markas Bataylon 611.


Sambutan ala militer ini dilakukan ketika rombongan tiba di simpang tiga Loa Jalan. Di sinilah awal mula mental skuad Pesut Etam diuji, melalui dentuman memekakkan telinga.


Tak lama kemudian, tim Pesut Etam pun baris-berbaris seperti halnya calon anggota militer, tamtama maupun bintara. Jika saat menjemput di Stadion Segiri para pelatih dari Yonif 611 hanya bisa dihitung jari, kali ini jumlah mereka hampir setara dengan skuad Pesut Etam.


Malam pertama, anggota tim langsung mengikuti pengajian, atau yang biasa dikenal sebagai kegiatan bimbingan rohani dan mental. Lettu Inf Nanda Siswanto yang mewakili Batalyon 611, mengatakan kegiatan seperti ini cara mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Apalagi di pusat pelatihan ini para pemain tak hanya dibentuk mentalnya, namun juga diajak mensyukuri nikmat dari Sang Pencipta.


"Tak hanya mental yang kami bentuk disini, tapi psikis pemain PBFC juga di explore agar mereka tahu arti menghargai nikmat Sang Pencipta" kata Nanda.


Hari Kedua: Latihan Fisik & Psikotest
Hari kedua menjalani latihan militer di Markas Besar Yonif 611 Awang Long, Kalimantan Timur, skuat PBFC mendapatkan materi pelatihan ala prajurit TNI.
Ketahanan fisik diuji melalui tantangan berlari menyusuri medan berbukit-bukit. Egi Melgiansyah dan kawan-kawan juga diharuskan merayap di atas tali yang membentang di atas sebuah kolam.


Dalam sesi uji rintangan ini, beberapa pemain terjatuh, dan terjun ke kolam di bawahnya. Tim terbaik, kelompok Okto Maniani, mampu mengalahkan kelompok lainnya, berhak mendapat penghargaan berupa tambahan durasi menelepon keluarga selama tiga jam. Selama pelatihan, para pemain memang diminta disiplin.


Permainan lainnya, di bawah guyuran hujan, Egi Melgiansyah dan kawan-kawan dituntut untuk bisa melepas tali yang mengikatnya. Syaratnya mereka harus bisa membuka ikatan tersebut tanpa harus mengubah simpul ikatan tali.


Para pemain juga menjalani psikotest. Dalam waktu dua menit mereka diharuskan mengisi pertanyaan yang tertera dalam selembar kertas. Nilai tambahan akan diberikan jika peserta ujian mampu mengisi jawaban benar di bawah waktu dua menit. Jika melebihi limit tersebut, nilai pemain bersangkutan akan dikurangi.


"Ini bertujuan untuk mengendalikan diri, di saat kondisi lelah, mereka dituntut tetap konsentrasi di situasi apapun. Sekalipun itu di hadapan harimau yang kelaparan. Tujuannya agar mereka tidak mudah patah semangat, dan tidak sekalipun pantang menyerah," kata Letda Inf Imam Nawawi, selaku pelatih motivator di Yonif 611/Awang Long.


Hari Ketiga: Latihan Menembak
Skuat Pusamania Borneo FC (PBFC) juga dilatih keterampilan menembak. Pada hari ketiga, Sabtu (21/3/2015), sekitar pukul 11.00 Wita, pemain latihan keterampilan memegang senjata.


Setelah itu, ke-27 pemain PBFC diminta membidik target yang sudah ditentukan. Ada tiga jalur target sasaran. Jarak antara pemain kurang lebih sejauh 100 meter.
Peluru yang digunakan dalam latihan ini bukan berjenis peluru tajam, namun pelatih dari Batalyon 611 meminta Okto Maniani dan kawan-kawan berkonsentrasi agar tak membahayakan orang lain.


"Konsentrasi kalian perlukan di sini. Fokus.. fokus.. fokus! Jangan ada pikiran apa pun selain bagaimana caranya kalian membidik target tepat sasaran ketika kalian memegang senjata. Artinya kalian bertanggung jawab soal nyawa, jangan dianggap enteng," kata Kapten Inf Reza Fahlevi.


Jadwal skuad Pusamania Borneo FC (PBFC) selama mengikuti latihan militer di Markas Batalyon Infantri (Yonif ) 611 Awang Long benar-benar padat. Baru saja mengakhiri kegiatan pukul 22.00 Wita, Okto Maniani cs kembali dikagetkan letupan senapan pada Sabtu (21/3/2015) pukul 00.30 dinihari.


Di tengah rasa kantuk yang mendera, mereka harus melaksanakan kegiatan jurit malam sambil menyisir hutan sepanjang 8 kilometer untuk membawa pesan yang harus disampaikan di pos terakhir. Kegiatan menyusur hutan ini tak dilakukan secara berrombongan, per kelompok. Satu kelompok hanya dua pemain.


Selama perjalanan menyusuri hutan di kawasan Loa Janan, mereka mendapatkan gangguan. Seperti pengakuan Egi Melgiansyah yang melihat pocong di tengah perjalanan.


Kegiatan ini sendiri dilakukan untuk melatih fokus dan konsentrasi pemain ditengah halangan yang dilalui. Dan pesan yang diemban bisa diberikan dengan benar kepada orang yang menerima kabar


"Kalau diaplikasikan di lapangan hijau, mereka tetap bisa fokus dengan strategi permainan dan tak terpengaruh dengan tekanan suporter lawan" kata Kapten Inf Reza Fahlevi, dari Yonif 611 Awang Long.


Hari Keempat: Kegiatan Sosial
Selepas melaksanakan shalat subuh, Minggu (22/3/2015), para pemain diajak mengunjungi salah satu panti asuhan yang ada di wilayah Loa Janan. Kedatangan yang tiba-tiba ini tentu saja membuat anak-anak girang karena tak menyangka tempat tinggalnya dikunjungi Okto Maniani dan kawan-kawan.


Namun kekagetan itu langsung berganti dengan suasana ceria, apalagi ketika seluruh pemain bergabung dengan anak-anak lainnya untuk makan pagi bersama. Letda Inf Imam Nahrawi, perwakilan dari Yonif 611 Awang Long, menerangkan kegiatan ini bagus dilakukan pasalnya ditengah aktifitas pembentukan karakter, mereka juga dituntut untuk bisa bersosialisasi dengan masyarakat umum.


Para pemain sarapan bersama anak-anak panti. Tak hanya makan pagi dan berkumpul bersama, para pemain memberi coaching and clinic kepada anak-anak.
Beberapa pemain secara bergantian memberikan coaching clinic singkat, memainkan bola serta memotivasi anak-anak.


Anak-anak bahkan mengajak bermain bola. Okto Maniani turun dan mengajak anak-anak untuk adu penalti. (Baca juga: Jalani Latihan Militer, Manajemen PBFC Akui Spirit Meningkat).


Para pemain mengakhiri latihan ala militer selama empat hari, lalu kembali ke mess PBFC di Segiri. Saat akan pulang, mereka menolak naik bus yang dilengkapi penyegar ruangan, dan jok empuk, melainkan memilih truk angkutan militer.


Okto Maniani mengungkapkan latihan yang dijalaninya menjadi cerita tersendiri dalam kariernya sebagai seorang pesepakbola. "Ini akan menjadi cerita diperjalanan hidup sebagai pemain bola. Banyak manfaat selama empat hari terakhir disini. Terima kasih untuk abang-abang pelatih," katanya.


Pemain lainnya, Ahmad Hisyam Tole, berharap kekompakan yang dijalani selama empat hari bisa terus berlanjut disaat Pesut Etam mengarungi Indonesia Super League (ISL). "Saya harap kekompakan ini tak sampai disini saja. Semoga musim ini kita jadi juara," katanya.


Semoga sepulang latihan, tim PBFC semakin kompak, solid dalam team wook, sehingga diharapkan berprestasi pada musim pertama mengikuti Indonesia Super League, April mendatang. (Januar Alamijaya)