Pusamania Borneo FC (PBFC) akan tetap mengacu kepada keputusan dari PSSI terkait jadi atau tidaknya menggelar pertandingan kandang perdana pada 14 Mei mendatang. Manajer PBFC Dandri Dauri mengatakan, pihaknya tetap berharap laga melawan Perserui Serui pada 14 Mei nanti benar-benar jadi dilaksanakan.


Pasalnya hal itu sesuai dengan kesepakatan antara semua kontestan ISL dalam manager meeting di Jakarta awal pekan kemarin yang tetap melanjutkan jalannya kompetisi dan menggelar semua pertandingan.


Walaupun belakangan muncul surat dari Kapolri yang memerintahkan jajaran di bawahanya untuk tak mengeluarkan izin, akan tetapi berdasarkan hasil komunikasi terakhir Panitia Pelaksana (Panpel), pertandingan di daerah bisa tetap menggelar pertandingan dengan alasan force majeure. "Yang jelas kita mengikuti acuan kalau kesepakatan PSSI kepada peserta di atas pada 25 April harus main," katanya.


Dengan alasan tersebut, maka pertandingan bisa tetap digelar karena merupakan hal yang tak bisa ditunda atau dihindarkan. Dengan demikian Polri dalam hal ini tetap punya kewajiban mengamankan jalannya laga. "Hari ini saya komunikasi diizinkan atau tidak tapi ini tetap berlangsung alasannya ini force majeure karena sesuatu yang tidak bisa ditunda," kata Manajer PBFC Dandri Dauri, Jumat (24/4).


Meski demikian Dandri, juga mengungkapkan keputusan dari PSSI untuk tetap menggelar pertandingan bukan hanya sebatas lisan semata, paling tidak ada keputusan tertulis yang dikirimkan kepada masing-masing klub. PBFC sendiri rencananya akan kembali melakoni pertandingan di ISL 2015 menghadapi Perserui Serui pada 14 mendatang sekaligus menjadi laga kandang perdana tim berjuluk Pesut Etam tersebut.


Sebelumnya, Presiden Pusamania Borneo FC (PBFC), Nabil Husein Said Amin, secara blak-blakan mengancam untuk mundur dari pentas ISL, hal ini merupakan akumulasi kekecewaan dirinya akibat gelaran liga yang dianggapnya tidak jelas.


Padahal pihaknya telah mengeluarkan dana banyak, baik untuk mengontrak pemain ataupun kebutuhan operasional tim. Namun dengan kondisi yang ada sekarang, kerugian yang dialami tak hanya pada sisi meteri namun juga dari segi waktu akibat lamanya menunggu kepastian. "Wasted time and wasted money untuk liga tidak jelas saya kecewa sekali," tulisnya melalui akun twitternya.


Nabil juga secara tegas meminta kepada pemerintah, bisa menyelesaikan persoalan PSSI dan Menpora ini. Menurutnya, jika terus berlarut-larut, keuangan klub akan berpengaruh terlebih saat ini, PBFC harus merugi hingga Rp 1 miliar tiap bulan, imbas dari terus tertundanya kompetisi. Presiden klub termuda di Indonesia ini memang mengencam angkat kaki dari ISL 2015 jika sampai akhir Mei nanti belum ada kejelasan tentang digelarnya lanjutan ISL 2015. (Teka/AHS)