Dua pemain asing tim Pusamania Borneo FC (PBFC), Martin Kovachev dan Srdjan Lopicic tak tampak ikut berlatih bersama skuat asuhan Arcan Iurie lainnya di Stadion Segiri, pada Senin (27/4) kemarin.


Usut punya usut mereka berdua ternyata masih berada di Singapura untuk mengurus Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) yang merupakan salah satu syarat administratif bagi pemain asing yang merumput di Indonesia. Kepastian berangkatnya kedua pemain asing tersebut ke negeri Singa, disampaikan oleh Bendahara PBFC, Suheil Sungkar.


Ia mengatakan, Kovachev dan Lopicic sudah berangkat ke Singapura sejak hari Minggu (26/4) lalu. Rencananya satu atau dua hari mendatang, kedua pemain asing Pesut Etam tersebut sudah kembali ke tanah air dan bergabung bersama pemain lainya untuk mengikuti latihan. "Martin sama Lopicic ke Singapura urus Kitas, tapi satu atau dua hari lagi kembali lagi ke sini," katanya.


Sementara itu, pemain PBFC, Okto Maniani, memilih pulang ke kampung halamannya di Jayapura jika memang tahun ini tak ada kompetisi yang digelar baik oleh PSSI maupun Kemenpora. Namun ia belum tahu akan melakukan apa ketika tak bisa lagi bermain di ISL pada musim ini, karena dirinya memang tak punya sumber pendapatan lain di luar bermain sepak bola. Hal yang paling masuk akal, aktivitasnya tetap tak akan jauh dari dunia kulit bundar. Misalnya Okto akan menerima setiap ajakan untuk bermain sepak bola pada level antar kampung alias tarkam.


Biasanya ada saja pihak yang menghubungi dirinya untuk memperkuat klub-klub level kecamatan atau desa baik di Jayapura maupun daerah Indonesia Timur lainnya untuk turun dalam sebuah turnamen. Lagipula bayarannya juga lumayan untuk sekadar bertahan hidup di tengah kevakuman kompetisi jika memang liga benar-benar dihentikan. "Kalau ada panggilan main tarkam, kita main tarkam saja di luar Jayapura misalnya seperti Ternate pokoknya kalau ada yang panggil kita main," katanya.


Disisi lain, Saktiawan Sinaga, berencana untuk pulang ke kampung halamannya di Desa Mata Pao Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Di tanah kelahirannya tersebut Sakti memilih untuk beternak sapi potong yang telah dirintisnya sejak tahun 2005 silam.


Menurut Sakti, pilihan untuk beternak sapi merupakan pilihan paling rasional untuk sekadar bertahan hidup sembari menunggu kompetisi digulirkan kembali, jika memang pada tahun ini ISL tak jadi dipertandingkan. "Mungkin saya pulang kampung saja ternak sapi. Di kampung ada banyak sapi saya di sana sekitar 200 ekor," katanya. (teka)