Memiliki sederet pemain muda berkualitas mumpuni, membuat Pusamania Borneo FC (PBFC) tampil lebih bergairah dalam setiap laga yang dilakoni. Terlebih, perpaduan dengan menambah pemain kawakan dalam starting eleven yang diturunkan membuat klub berjuluk Pesut Etam ini ditakuti lawan.


Namun, ditengah keunggulan tersebut, persoalan klasik seperti mental bertanding pemain muda menjadi pekerjaan rumah tangga yang harus segera dibenahi.


Seperti diketahui, Hermansyah Muclish dan Stevanus Bungaran yang menjadi tandem Ponaryo Astaman mengaku sempat minder saat diplot berduet dengan pemain yang akrab disapa Popon itu. Selain memiliki nama besar, Ponaryo diketahui merupakan salahsatu pemain yang diidolakan keduanya. Tak jarang, perasaan itu justru berpengaruh terhadap performa keduanya diatas rumput hijau.


"Waktu saya kecil, saya pernah jadi anak-anak pendamping pemain, dan saya waktu itu digandeng bang Popon, dan sekarang saya justru bisa satu tim dan satu lapangan, wajar kalau perasaan minder itu ada. Tapi bang Popon banyak kasih contoh yang baik ke kita, dia idola saya," sahut Hermansyah Muclish.


Menanggapi hal itu, pemain sarat pengalaman Ponaryo Astaman mengatakan dalam sepakbola, tekanan merupakan hal yang biasa. "Di sepak bola sendiri siapa yang bisa keluar dari pressure, siapa yang bisa mengatasi tekanan biasanya dia akan jadi pemain yang bagus," sahutnya.


"Kalau saya dulu, untuk mengatasi itu saya justru lebih giat berlatih, artinya kita harus punya kepercayaan diri, dengan menambah porsi latihan, otomatis secara teknis kemampuan akan bertambah, rasa kepercayaan diri juga akan berpengaruh," tambah pemain berusia 36 tahun itu.


"Jujur perasaan seperti ini juga saya alami ketika dulu saya seusia mereka saat baru pertama kali ikut di tim profesional dan bergabung dengan pemain-pemain senior, yang selama ini cuma kita lihat atau kita hanya dengar namanya dan kemudian berada dalam satu lapangan memang ada nervous, cuman tergantung pada kita bagaimana mengatasi nervous tersebut," terangnya.


Diungkapkan Popon secara kualitas individu per individu, pemain muda di skuad Pesut Etam terbilang bagus. Selain Sultan Samma, Ade Jantra Lukmana, Hermansyah Muclish dan Stefanus Bungaran, masih ada nama Lopenda, Riskal Susanto, Sandi Darman Sute, Terens Puhiri, Arphany, Fandi Ahmad, Nizar Azahria dan M Slamat yang memiliki skill mumpuni.


"Memang yang mahal dalam tanda petik buat pemain muda itu adalah pengalaman dan kepercayaan diri, itu yang perlu mereka temukan, dan itu tidak bisa dilatih atau tidak bisa diajarkan tapi mereka sendiri yang mencari bagaimana caranya, salahsatunya menambah porsi latihan, kemudian pengalaman itu semakin bertambah dengan seringnya mereka bertanding, memang kesempatan untuk pemain ini penting, bukan cuma untuk skill saja tapi untuk perkembangan mereka secara mental," pungkas Ponaryo. (AHS)