Borneo FC vs PSBS : Ujian Mental dan Fisik

Laga pekan ke-27 di Stadion Segiri, Sabtu (11/4), antara Borneo FC dan PSBS Biak bakal menjadi ujian tersendiri bagi kedua tim. Bukan hanya untuk tim tamu, sulitnya penerbangan bahkan membuat laga ini ibarat pertandingan away bagi tuan rumah.

Ini bukan hanya tentang penerbangan, tapi bagaimana kemampuan pelatih dan pemain dalam mengelola fisik, agar tetap mampu tampil dalam performa terbaik. Seperti yang dialami Pesut Etam, mereka baru saja tiba di Samarinda, Kamis (9/4) kemarin dan hanya berjarak dua hari sebelum duel dimulai.

Kondisi tak jauh berbeda juga dialami PSBS, yang dikabarkan juga mengalami kesulitan yang sama untuk tiba di Samarinda. Dalih menjaga kondisi fisik itu juga yang membuat Borneo FC memilih waktu tak biasa di sesi official training (OT), dengan mengambil jadwal di pagi hari, Jumat (10/4).

Walau menurut pelatih Fabio Lefundes, dirinya memang lebih memilih pagi hari untuk OT, ketika pertandingan dimainkan di sore hari.

"Saya suka melakukan OT di pagi, agar kami memiliki waktu istirahat yang lebih lama," Lefundes memberikan alasannya.

Namun, bagi Lefundes tidak ada alasan untuk mengeluhkan kondisi fisik. Pasalnya, meski terlambat tiba di Samarinda, tim tetap melakukan persiapan selama di Surabaya dan ia percaya pemainnya sudah siap untuk bertanding.

"Saya selalu mengatakan kepada pemain, bahwa saya tidak menerima alasan dan keluhan. Mereka harus siap untuk tampil sebaik mungkin, tidak peduli kesulitan apa yang kami alami dalam perjalanan atau situasi latihan," tegasnya.

"Untuk kondisi fisik, kami tidak percaya bahwa kami akan memiliki masalah dengan itu," lanjutnya lagi.

Laga ini menjadi sangat penting bagi kedua kesebelasan. Sebagai tuan rumah, Borneo FC menargetkan tiga poin, untuk tetap menjaga peluang menjadi yang terbaik di akhir musim. Sementara bagi Laskar Badai Pasifik, julukan PSBS, kemenangan atas tim papan atas, diharapkan bisa kembali mengangkat mental tim yang masih berkubang di dasar klasemen.

Lefundes sendiri telah mengingatkan, bahwa menghadapi tim yang berada di bawah, memiliki tingkat kesulitan yang sama seperti menghadapi tim papan atas. Karena biasanya mereka memiliki motivasi berlipat untuk menyelamatkan diri dari degradasi.